{"id":292,"date":"2010-04-20T04:07:28","date_gmt":"2010-04-20T04:07:28","guid":{"rendered":"http:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/?p=292"},"modified":"2010-04-20T04:07:28","modified_gmt":"2010-04-20T04:07:28","slug":"jurnal-neutrino-vol-2-no-2-edisi-april-2010","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/jurnal-neutrino-vol-2-no-2-edisi-april-2010\/","title":{"rendered":"JURNAL NEUTRINO Vol.2 &#8211; No.2 Edisi April 2010"},"content":{"rendered":"<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">KETIADAAN RUANG FOCK BAGI NEUTRINO FLAVOR<\/strong><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Oleh : Erika Rani<\/strong><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Abstrak <\/strong>: Telah dikaji bahwa tidak ada kemungkinan untuk membangun ruang Fock bagi keadaan flavor. Suatu ruang Fock tak berhingga dari neutrino flavor bergantung pada parameter massa yang tidak fisis. Ini menunjukkan konstruksi matematis yang cerdas tanpa relevansi fisis apapun.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Kata Kunci<\/strong> : Ruang Fock, Keadaan Flavor<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">PENENTUAN PATAHAN DAN TOPOGRAFI MOHO<\/strong><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\"> PADA DATA NOAA-FA BERBASIS FFT<\/strong><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Oleh : Sungkono, Bagus Jaya Santosa<a href=\"http:\/\/www.blogger.com\/post-create.g?blogID=6123613670309508738#_ftn2\" name=\"_ftnref2\" data-blogger-escaped-style=\"mso-footnote-id: ftn2;\"><\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Abstract : <\/strong>Regional Gravity NOAA-FA data analysis using several gradient methods has been conducted to determine the fracture and direction fault based on FFT. Fault can be qualitatively identified from a regional anomaly data, gradient Theta and Normalized Standard Deviation (NSD) is trending north-south. Dominant fracture orientation parallel to the fault is only detectable by gradient Theta and NSD, but more obviously displayed on the gradient NSD. Furthermore, regional anomaly of Gravity data inverted to generate Moho topography. This inversion using FFT based algorithm (Parker, 1972). The inversion result of Moho depths between 30-39 km. In the Moho topography, there is contrast depth difference, namely the Latitude -35 to -25 and Longitude -70 to -65, which is suspected as a fracture.<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Keyword:<\/strong> Gravity, FFT, Inversion, Fault, Fracture, Moho<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">PENERAPAN ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI TRANSFER DAYA PADA SISTEM SENSOR GAS METANA<\/strong><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Oleh : Muthmainnah, Melania Suweni Muntini<\/strong><\/p>\n<p>.<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Abstrak: <\/strong>Pada pengukuran perubahan gejala fisis digunakan sensor yang dirangkai dengan pengkondisi sinyal dan komponen elektronik lain. Pemilihan pengkondisi sinyal sangat penting karena menentukan efektifitas transfer daya antara sensor dan pengkondisi sinyal. Transfer daya optimum akan terjadi pada saat nilai resistansi sensor (R<sub>S<\/sub>) sama dengan resistansi beban (R<sub>L<\/sub>).<\/p>\n<p>Pada makalah penelitian ini disajikan hasil optimasi transfer daya yang bertujuan untuk mengoptimumkan daya yang ditransfer dari sensor gas metana ke pengkondisi sinyal. Metode optimasi yang digunakan adalah algoritma genetik dengan tegangan sensor (V<sub>S<\/sub>) dan resistansi beban (R<sub>L<\/sub>) sebagai kromosom. Pemilihan probabilitas <em data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-style: normal;\">crossover<\/em> 0,8 dan probabilitas mutasi 0,2. Pada penelitian ini jumlah populasi yang digunakan adalah 1000 dan 200 generasi. Hasil optimasi ditentukan dengan fungsi <em data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-style: normal;\">fitness<\/em> yang menggambarkan daya maksimum dengan nilai optimum tegangan sensor (V<sub>S<\/sub>) 4,724 Volt dan resistansi beban (R<sub>L<\/sub>) 450,6556 Ohm. Kondisi tersebut dicapai pada generasi ke 46 dan daya yang ditransfer adalah 0,1981 Watt.<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Kata Kunci :<\/strong> Algoritma genetik, Generasi, Optimasi , Pengkondisi sinyal, Transfer daya.<\/p>\n<p><strong>ANALISIS IMPLEMENTASI <\/strong><strong>JARINGAN SYARAF<\/strong> <strong>ADAPTIF <\/strong><strong>UNTUK PERAMALAN <\/strong><strong>KEBUTUHAN <\/strong><strong>ENERGI LISTRIK<\/strong><strong> WILAYAH MALANG<\/strong><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Oleh : Donni Frans Pasman<\/strong><a href=\"http:\/\/www.blogger.com\/post-create.g?blogID=6123613670309508738#_ftn5\" name=\"_ftnref5\" data-blogger-escaped-style=\"mso-footnote-id: ftn5;\"><\/a><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">, Moch Aziz Muslim<\/strong><a href=\"http:\/\/www.blogger.com\/post-create.g?blogID=6123613670309508738#_ftn6\" name=\"_ftnref6\" data-blogger-escaped-style=\"mso-footnote-id: ftn6;\"><\/a><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">, Moch Dhofir<\/strong><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Abstrak : <\/strong>Kemajuan teknologi informasi memungkinkan kegiatan peramalan energi listrik dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode jaringan syaraf tiruan perambatan balik dan jaringan syaraf adaptif telah diterapkan pada kegiatan peramalan energi listrik. Keberhasilan peramalan ditentukan ketepatan data yang relevan. Dalam penelitian ini dipilih beberapa data meliputi : Produk Domestik Bruto perkapita, pertumbuhan penduduk, jumlah rumah tangga, jumlah energi total dan daya tersambung. Data yang dipergunakan adalah data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Malang dan PT PLN APJ Malang. Data untuk pembelajaran diambil mulai tahun 2001-2005, untuk pengujian mulai tahun 2006-2008 dan peramalan tahun 2009. Penelitian ini menyajikan suatu algoritma jaringan saraf adaptif untuk peramalan permintaan energi listrik. Studi empiris menunjukkan bahwa jaringan saraf adaptif algoritma konvergensi lebih cepat dan presisi yang lebih tinggi daripada algoritma jaringan saraf. Hasil peramalan memperlihatkan error rata-rata sangat kecil, yaitu sebesar 1%.<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Kata kunci : <\/strong>Peramalan, Jaringan Syaraf Adaptif<\/p>\n<p><strong>SIMULASI TUMBUKAN PARTIKEL GAS IDEAL DENGAN MODEL CELLULAR AUTOMATA DUA DIMENSI<\/strong><\/p>\n<p><strong>Oleh : Annisa Mujriati<sup><a href=\"http:\/\/www.blogger.com\/post-create.g?blogID=6123613670309508738#_ftn7\" name=\"_ftnref7\" data-blogger-escaped-style=\"mso-footnote-id: ftn7;\"><\/a><\/sup>, Abdul Basid<\/strong><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><strong> : <\/strong>Telah dilakukan simulasi tumbukan partikel gas ideal dengan menggunakan model <em>cellular automata <\/em>dua dimensi untuk memvisualisasikan tumbukan partikel gas ideal. Tumbukan partikel disimulasikan dengan menggunakan model <em>cellular automata <\/em>dua dimensi<em>.<\/em> Di dalam <em>cellular automata, <\/em>pergerakan partikel diatur dengan suatu aturan yaitu aturan delapan tetangga yang merupakan aturan acak. Hasil program simulasi tumbukan partikel gas ideal dengan model <em>cellular automata <\/em>dua dimensi menggunakan aturan acak delapan tetangga ini berbasis Delphi adalah arah tumbukan partikel gas sesuai dengan sifat-sifat gas ideal yang bergerak acak dan tersebar merata dalam jumlah yang banyak serta sebagian tumbukannya itu bersifat lenting sempurna. Sesuai dengan konsep <em>cellular automata<\/em> program simulasi tumbukan partikel gas ideal ini menyerupai bentuk yang ada di alam.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci<\/strong>: Tumbukan, Partikel, Gas Ideal, Cellular Automata<\/p>\n<p><strong>ANALISIS PRODUKTIFITAS GAS HIDROG<\/strong><strong>E<\/strong><strong>N DAN GAS OKSIGEN<\/strong> <strong>PADA ELEKTROLISIS LARUTAN KOH<\/strong><\/p>\n<p><strong>Oleh : Arbie Marwan Putra<\/strong><\/p>\n<p><strong>Abstrak : <\/strong>Teknologi mengubah air menjadi sumber energi sudah mulai banyak ditemukan. Para ilmuan mempunyai metode masing-masing tentang pengubahan air menjadi energi. Salah satunya menggunakan metode elektrolisis, yaitu mengubah ikatan air (H<sub>2<\/sub>O) menjadi senyawa penyusunnya H<sub>2<\/sub> yang mudah terbakar dan O<sub>2<\/sub> berfungsi membantu proses pembakaran. Hal yang mempengaruhi terjadinya elektrolisis adalah konsenterasi larutan dan arus listrik. Dalam penelitian ini larutan yang digunakan adalah larutan KOH sedangakan arus listrik berasal dari power supply DC sebagai sumber tegangan kemudian dianalisis menggunakan metode analisis regresi. Hasil penelitian diperoleh bahwa\u00a0 produktifitas H<sub>2<\/sub> pada saat arus 4A persamaan regresi adalah \u0176 = 22,82 + 4,607X dan pada saat konsenterasi 4% persamaan regresi adalah \u0176 = -3,049 + 10,91X.\u00a0 Sedangkan produktifitas O<sub>2<\/sub> pada saat konsentersi larutan 4% persamaan regresi yang dihasilkan adalah \u0176 = -2,032 + 7,276X dan pada saat arus 4A adalah \u0176 = 15,21 + 3,071X.<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Kata Kunci:<\/strong> Air (H<sub>2<\/sub>O), Gas Hidrogen, Gas Oksigen, Elektrolisis<\/p>\n<p><strong>PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENGENDALI ASAP ROKOK BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S8252<\/strong><\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Oleh : Riza Mega Umami<a href=\"http:\/\/www.blogger.com\/post-create.g?blogID=6123613670309508738#_ftn9\" name=\"_ftnref9\" data-blogger-escaped-style=\"mso-footnote-id: ftn9;\"><\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>Abstrak : <\/strong>Telah dibuat alat pengendali asap okok dengan sistem otomatis yang dapat\u00a0 mengembalikan kesegaran udara pada ruangan yang terpolusi asap rokok. Masukan dari sistem ini adalah sensor suhu LM35 yang dikuatkan dengan op-amp\u00a0 untuk mendapatkan perubahan tiap skala derajad celcius dan sensor asap TGS 2600. Masukan analog akan masuk ke ADC PCF8591 untuk mengubah sinyal analog dari sensor suhu dan sensor asap ke dalam bentuk digital. Keluaran dari ADC akan masuk dan diolah oleh Mikrokontroler AT89S8252. Selanjutnya mikrokontroler memerintahkan driver untuk mengaktifkan jendela, fan, alarm dan pengharum. Alat ini diharapkan dapat digunakan untuk mengendalikan zat beracun yang dikeluarkan melalui asap rokok dengan jalan mengendalikan asap rokok pada temperatur 32 <sup>o<\/sup>C dan konsentrasi asap 100 ppm, dimana kondisi ini sebagai keadaan kritis dalam suatu ruangan akibat asap rokok yang dikeluarkan.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci: <\/strong>Pengendali, Asap rokok, Otomatis<\/p>\n<p><strong>PEMODELAN TSUNAMI SEBAGAI BAHAN MITIGASI BENCANA STUDI KASUS SUMENEP DAN KEPULAUANNYA<\/strong><\/p>\n<p><strong>Oleh : Rusli, Irjan, Ariska Rudyanto<a href=\"http:\/\/www.blogger.com\/post-create.g?blogID=6123613670309508738#_ftn11\" name=\"_ftnref11\" data-blogger-escaped-style=\"mso-footnote-id: ftn11;\"><\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong>: Indonesia adalah tempat pertemuan tiga lempeng yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Karena Indonesia dua pertiganya adalah lautan, maka gempabumi berpotensi tsunami sangat besar\u00a0 di Indonesia. Menurut data <em>WinITDB<\/em> dan <em>NOAA<\/em> Sumenep dan kepulauannya pernah terjadi tsunami serta didukung konsep tektonik Sumenep dan Bali-Nusa Tenggara dimana banyak patahan-patahan aktif yang juga dalam sejarahnya pernah terjadi gempabumi pembangkit tsunami. Penelitian ini dilakukan di BMKG Tretes, dengan menggunakan data tsunami yaitu <em>WinITDB <\/em>dan <em>NOAA<\/em> sedangkan untuk data seismisitasnya menggunakan data USGS dan Global CMT . Kemudian data itu diolah menggunakan software TUNAMI dan WinITDB. Outputnya berupa sebaran gelombang tsunami dari sumber ke semua target area<em>,\u00a0 travel-timenya<\/em> dan <em>run-up<\/em> yang terjadi di target area.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci :<\/strong> Tsunami, TUNAMI, Sumenep.<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">OTOMATISASI PENGUKURAN KOEFOSIEN VISKOSITAS ZAT CAIR MENGGUNAKAN GELOMBANG ULTRASONIK<\/strong><\/p>\n<p><strong>Oleh : Eka Suci Ariyanti<sup><a href=\"http:\/\/www.blogger.com\/post-create.g?blogID=6123613670309508738#_ftn12\" name=\"_ftnref12\" data-blogger-escaped-style=\"mso-footnote-id: ftn12;\"><\/a><\/sup>, Agus Mulyono<\/strong><\/p>\n<p><strong>A<\/strong><strong>bstrak:\u00a0 <\/strong>Viskositas adalah ukuran yang menyatakan kekentalan suatu cairan atau fluida. Ukuran kekentalan zat cair\u00a0 ini dapat ditentukan dengan memanfaatkan proses transmisi dan pantulan dari gelombang ultrasonik. Pada penelitian ini digunakan 10 sampel campuran dari 2 zat cair yang memiliki nilai kekentalan yang berbeda yaitu encer (solar) dan kental (oli EPA 90) dengan pemberian konsentrasi yang berbeda antara campuran yang satu dengan yang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat alat pengukur viskositas zat cair secara otomatis menggunakan sensor ultrasonik. Analisis data pada pengujian pewaktu alat menunjukkan nilai KR sebesar 4.36% dan data pada pengujian alat keseluruhan KR sebesar 4.47%. Hal ini karena dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari luar maupun faktor dalam dari komponen itu sendiri. Dengan demikian maka alat pengukur viskositas zat cair ini telah bekerja sesuai program dan dapat digunakan untuk pengukuran karena KR alat masih dibawah 5%.<\/p>\n<p><strong data-blogger-escaped-style=\"mso-bidi-font-weight: normal;\">Kata kunci:<\/strong> Viskositas, Zat cair, Gelombang Ultrasonik<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KETIADAAN RUANG FOCK BAGI NEUTRINO FLAVOR Oleh : Erika Rani Abstrak : Telah dikaji bahwa tidak ada kemungkinan untuk membangun ruang Fock bagi keadaan flavor. Suatu ruang Fock tak berhingga dari neutrino flavor bergantung pada parameter massa yang tidak fisis. Ini menunjukkan konstruksi matematis yang cerdas tanpa relevansi fisis apapun.<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[33,34],"class_list":["post-292","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-jurnal-neutrino","tag-jurnal","tag-jurnal-fisika"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=292"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=292"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=292"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisika.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=292"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}